Angka PHK Naik Tajam, Klaim JHT BPJamsostek Meroket Rp. 26 T

Angka PHK Naik Tajam, Klaim JHT BPJamsostek Meroket Rp. 26 T

Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Ketenagakerjaan atau sering disebut BPJamsostek mengatakan bahwa klaim manfaat untuk program Jaminan Hari Tua (JHT) meningkat pesat selama pandemi Covid-19 hingga menyentuh angka Rp. 26 T. Anggoro Eko Cahyo selaku Direktur Utama (Dirut) BPJS Ketenagakerjaan menyatakan bahwa lonjakan klaim program JHT terjadi akibat dari banyaknya karyawan yang dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19.

“Klaim prognosa melebihi anggaran yang sudah diestimasi yang semula besarnya klaim 2021. Hal ini disebabkan dari banyaknya angka pengangguran dan keluar dari pekerjaan tersebut, maka klai, program manfaat JHT meroket sangat tajam,” kata Anggoro saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI pada Rabu, 15 September 2021.

Dirinya memprediksi dengan terjadinya pembengkakan angka klaim JHT tersebut hingga sampai akhir tahun ini bisa mencapai Rp. 41 triliun.

Jumlah tersebut naik dari catatan sebelumnya di sepanjang tahun 2020 mencapai Rp. 37 triliun, kemudian di tahun 2019 mencapai Rp. 30 triliun dan 2 tahun sebelumnya yakni di tahun 2018 mencapai Rp. 28 triliun.

Menurutnya, pandemi virus Covid-19 juga berdampak bagi jumlah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Walau demikian, jika dilihat dari pertumbuhan peserta sepanjang tahun 2021 bisa mencapai sebesar Rp. 11,4 juta peserta. Namun peserta yang tidak bekerja akibat PHK juga lebih besar dari angka pertumbuhannya.

Baca juga: Menteri PPN Menargetkan Tahun 2022 Jadi Tahun Penting untuk Pemulihan Ekonomi

BPJS Ketenagakerjaan Optimis Hadapi Pandemi Covid-19

BPJS Ketenagakerjaan Optimis Hadapi Pandemi Covid-19

Ia juga mencatat pada periode bulan Agustus 2021, jumlah kepesertaan aktif BPJS Ketenagakerjaan turun drastis menjadi 29,2 juta orang. Jika dibandingkan dari data pada tahun 2019 atau sebelum pandemi melanda Tanah Air, jumlah kepesertaanaktif BPJS Ketenagakerjaan bisa mencapai 35 juta orang.

“Sebenarnya ada pertumbuhan kepesertaan baru sebanyak 12 juta orang. Namun karena memang jumlah yang keluar sebagai peserta juga cukup tinggi akibat lonjakan kasus PHK dan berhentinya dari pekerjaan,” pungkasnya.

Kendati demikian, dirinya berharap dan optimis bahwa sepanjang akhir tahun 2021 ini, jumlah pertumbuhan kepesertaan bisa naik antara kisaran 20 sampai 30 juta orang.

Jika dilihat dari sisi iuran, ia mengatakan per bulan Agustus 2021 iuran kepesertaan terkumpul hingga mencapai Rp. 51 triliun. Sedangkan untuk target akhir tahun 2021 sendiri ialah sebesar 77 triliun.

“Kami pihak BPJS Ketenagakerjaan optimistis dan melihat iuran masih on track (sesuai target). Namun jika kita bandingkan di 3 tahun terakhir per bulan Desember 2018 total iuran mencapai Rp. 66 triliun, untuk bulan Desember 2019 sebesar Rp. 74 triliun dan untuk periode tahun lalu yakni per Desember 2020 turun sedikit sebesar Rp. 73 triliun,” lanjut Anggoro