Ekonomi Global

Ekonomi Afghanistan Menuju Kehancuran, JK: Jika Taliban Tak Berubah

Ekonomi Afghanistan Menuju Kehancuran, JK: Jika Taliban Tak Berubah

Sebulan sudah negara Afghanistan dikuasai oleh Taliban namun nyata ekonomi di Afghanistan di ambang kehancuran. Meski Taliban sudah diberikan peringatan berulang kali secara tak langsung. Dalam forum internasional, bos besar PBB itu sudah menegaskannya bahwa ancaman kehancuran ekonomi yang akan dialami oleh negara tersebut.

Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Jusuf Kalla (JK) pun ikut mengomentari hal tersebut. Ia meyakini bahwa konflik permasalahan yang terjadi di Afghanistan akan terus berlanjut jika Taliban tetap memmpin dengan gaya yang eksklusif atau tertutup seperti 20 tahun lalu.

“Semoga mereka mau berubah. Kalau pun mereka tidak berubah seperti sebelumnya, maka lihat saja ke depannya nanti ekonominya akan hancur dengan sendirinya. Jika ekonominya hancur lebur, makan sistem pemerintahan tidak akan berjalan sehingga pada akhirnya nanti akan timbul anti-Taliban yang akan muncul dan bergerak, maka berujung terjadinya konflik lagi,” jelas JK dalam acara Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilizations yang dilakukan dalam bentuk webinar pada hari Jumat, 3 September 2021.

Kemudian JK juga melanjutkan, hanya akan ada tiga negara yang akan mengakui Afghanistan jika sistem pemerintahan yang dipakai Taliban dilakukan secara tertutup. Tiga negara itu di antaranya Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Menurutnya, keadaan tersebut yang akan menghambat berbagai investasi masuk ke Afghanistan. Dengan demikian, makan negara tersebut sudah tak punya modal lagi untuk menjalankan sistem pemerintahan, pembangunan dan roda perekonomiannya.

“Untuk masalah ekonomi, Afghanistan termasuk negara yang kaya, namun mereka tidak mampu untuk mengolahnya,” lanjut JK.

Sebelumnya, Afghanistan memanas dengan Amerika Serikat (AS) setelah AS menarik seluruh pasukannya dari negara Afghanistan. Akhirnya Taliban pun mampu menguasai tampuk pemerintahan setelah kurang lebih 20 tahun lamanya terasingkan.

Setelah Taliban berhasil menguasai Kabul, banyak negara di seluruh penjuru dunia untuk memulangkan warga negaranya, termasuk negara kita tercinta, Indonesia. Bahkan tak sedikit dari negara-negara lain yang tidak percaya dan meragukan akan kepemimpinan Taliban nantinya dikarenakan catatan sejarah sebelumnya.

Meski demikian, Taliban berjanji kepada seluruh dunia, bahwa dirinya berjanji akan berubah dan menjamin serta memastikan akan menjalankan sistem pemerintahannya dengan terbuka.

Diramalkan Hancur oleh PBB

Diramalkan Hancur oleh PBB

Wakil Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afghanistan yakni Deborah Lyons mengungkapkan, bahwa, untuk ke depannya nanti akan ada kehancuran yang akan terjadi di negara yang sekarang dikuasai oleh pasukan Taliban.

Hal ini terkait dengan pemmbekuan aset triliunan dolar yang dimiliki negara itu, yang dilakukan untuk mencegahnya jangan sampai jatuh ke tangan Taliban. Hal tersebut diyakini juga memicu kemerosotan ekonomi hingga berdampak buruk dan mendorong jutaan lebih warga ke dalam dunia kemiskinan dan kelaparan.

Dirinya juga mengatakan bahwa harus ada jalan yang dibuka lebar agar keuangan tersebut dapat mengalir ke Afghanistan. Nyatanya, pengamanan yang maksimal itu disalahgunakan.

“Ekonomi harus bisa bernafas dengan lega dalam beberapa bulan ini,” ujarnya kepada Dewan Keamanan PBB, pada hari Kamis 9 September 2021.

“Memberi Taliban kesempatan untuk menunjukkan fleksibilitas dan keinginan tulus untuk bisa melakukan hal-hal yang berbeda pada kali ini di bidang gender, Hak Asasi Manusia (HAM), dan juga kontra terorisme.

Diketahui aset yang di miliki oleh Afghanistan mencapai USD 10 triliun, ini bisa dianggap menjadi kunci barat dalam menekan perilaku Taliban.

Salah satunya yang terparkir di bank sentral AS, The Fed. Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memblokir USD 440 juta atau setara dengan Rp. 6,2 triliun uang cadangan darurat baru Afghanistan.

Baca Lain: Sri Mulyani Waspadai Gejolak Ekonomi Global Berlanjut ke 2022

“Taliban saat ini sedang mencari legitimasi dan dukungan dari para negara internasional lainnya. Pesan singkat kami hanya sederhana: (jika ingin) legitimasi, dukungan semacam apa pun harus diperolehnya,” ungkap Diplomat Senior AS, Jeffrey DeLaurentis, dalam pertemuan forum PBB tersebut.

Di sisi lain, ketika negara-negara barat sedang menjepit ‘Taliban’, China malah menggandeng dan saling bermesraan kepada kelompok tersebut. Diketahui Beijing memutuskan untuk bekerja sama dengan memberikan dabna bantuan sebesar USD Rp. 31 juta atau setara dengan Rp. 440 miliar.

Sri Mulyani Waspadai Gejolak Ekonomi Global Berlanjut ke 2022

Sri Mulyani Waspadai Gejolak Ekonomi Global Berlanjut ke 2022

Menteri Keuangan Sri Mulyani mewaspadai karena ketidakpastian ekonomi global yang berpeluang masih akan terus berlanjut pada tahun 2022.

Ia berbicara soal gejolak inflasi di tengah pemulihan ekonomi Indonesia yang diakibatkan oleh pandemi virus Covid-19. Menurutnya, gejolak ekonomi global dapat menekan perekonomian dalam negeri.

Sebenarnya ada beberapa hal yang harus diwaspadai, diantaranya yaitu hubungan perang dagang antar Amerika Serikat dengan China juga belum usai atau belum menunjukkan keharmonisan di depan publik.

Bukan hanya menjadi pantangan bagi negara Indonesia, Sri Mulyani juga menyebutkan bahwa saat ini berbagai negara di seluruh dunia pun juga mengalami hal yang sama dalam menghadapi komplikasi untuk pemulihan ekonominya di negara masing-masing.

Dia juga mencontohkan seperti Korea Selatan (Korsel) dan juga Brazil yang angka inflasinya naik drastis. Selain itu juga ada Rusia, Meksiko, dan Turki yang dinilai angka inflasinya naik rata-rata menjadi di atas 6 sampai dengan 7 persen.

Untuk itu, Menkeu pun berjanji Bank Indonesia (BI) mampu mempertahankan inflasi yang saat ini terjadi di level 1,59 persen dan untuk tetap pada level 3,5 persen.

Baca artikel terkait: Virus Baru Covid-19 Terus Bermunculan, Pemulihan Ekonomi Terhambat

Hati-Hati! Sri Mulyani Ungkap Ekonomi RI Hadapi Masalah Baru

Hati-Hati! Sri Mulyani Ungkap Ekonomi RI Hadapi Masalah Baru

Kemenkeu mewaspadai gejolak ekonomi global yang bisa mempengaruhi laju pertumbuhan pemulihan ekonomi di Indonesia. Ia pun juga menyoroti pertumbuhan inflasi setiap negara di tengah masa pemulihan ekonomi setelah diterpa pandemi Covid-19.

Jika inflasi tinggi, maka banyak tekanan yang bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

“Sejauh ini berbagai negara di seluruh dunia sedang menghadapi banyak komplikasi ketika ekonominya baru mulai akan pulih namun di sisi lain laju inflasinya meroket tinggi hingga tak terbatas,” jelas Sri Mulyani dalam rapat APBN KiTa pada hari Kamis, 23 September 2021 kemarin.

Dirinya pun berharap, Indonesia akan tetap menjaga angka inflasi sehingga komplikasi-komplikasi terjadinya pemulihan ekonomi yang terancam oleh laju inflasi dapat terhindarkan.

“Kita semua mengaharapkan ekonomi di Tanah Air tercinta ini bisa mempunyai pemulihan yang jauh lebih solid dan kemudian menjadi kuat untuk memungkinkan seluruh lapisan masyarakat bisa mendapatkan kesempatan dalam hal kerja dan pemulihan dari kesejahteraan ekonomi keluarganya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, Indonesia harus tetap mampu mewaspadai dan juga mencari solusi untuk memitigasi seluruh kemungkinan yang pasti akan terjadi untuk ke depannya nanti. Salah satunya dengan melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 yang kredibel.

“Hal-hal seperti inilah yang harus dan mampu untuk kita kelola. Untuk ketidakpastian dalam mengahadapi hari esok juga patuh kita semua waspadai namun bukan berarti kita tidak bisa dan tidak mampu mengelola segala hal ketidakpastian itu. Itulah yang saat ini kita akan keloa dan terus fokuskan dalam mengunakan RAPBN sebagai dasar instrumen dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di Tanah Air tercinta,” pungkasnya.

Virus Baru Covid-19 Terus Bermunculan, Pemulihan Ekonomi Terhambat

Virus Baru Covid-19 Terus Bermunculan, Pemulihan Ekonomi Terhambat

Dampak Pandemi Covid-19 dirasakan oleh berbagai negara di seluruh dunia. Terutama di negara-negara berkembang, pertumbuhan ekonomi jadi terhambat. Pemulihan ekonomi global yang diharapkan tahun ini tampaknya tidak semudah yang diperkirakan sebelumnya dan selalu menghadapi tantangan yang berat. Apalagi munculnya varian Delta Covid-19, banyak negara-negara terutama di negara berkembang yang mengalami kecemasan dalam menghadapi varian baru kasus Covid-19 tersebut.

Henry Ma, Senior Country Economist Asian Development Bank (ADB) mengatakan, bahwa beberapa negara berkembang di seluruh dunia mengalami penyesuaian target pemulihan ekonomi karena adanya varian baru virus Covid-19. Sebenarnya masih bisa pulih namun mungkin durasi pulihnya tidak secepat dugaan awal.

Kondisi tersebut yang menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi di suatu negara di seluruh dunia yang sudah ditetapkan tahun ini. Beberapa dari lembaga dunia sudah mulai memangkas proyeksi ekonomi bila tidak penting, untuk menjaga-jaga suatu waktu negara-negara tersebut mengalami krisis dalam hal keuangan.

Misalnya lembaga ADB sendiri yang sudah merevisi turun proyeksi ekonomi di Asia tahun ini dari yang sebelumnya 7,30 persen menjadi 7,20 persen. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Asia tahun depan akan dinaikkan menjadi 4,4 persen dari perkiraan sebelumnya yang hanya 5,3 persen. Untuk China sendiri, ADB mempertahankan perkiraan pertumbuhan tahun ini yang dari 8,1 persen menjadi 5,5 persen di tahun depan. Namun, untuk proyeksi pertumbuhan India tahun ini diturunkan dari yang 11 persen menjadi 10 persen dan dari yang 7 persen menjadi 7,5 persen untuk tahun depan.

Untuk ASEAN sendiri, ADB pun merevisi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 sebagai berikut:

– Indonesia dari 4,5 persen menjadi 4,1 persen
– Malaysia dari 6 persen menjadi 5,5 persen
– Thailand dari 3 persen menjadi 2 persen
– Singapura dari 6 persen menjadi 6,3 persen
– Vietnam dari 6,7 persen menjadi 5,8 persen
– Filipina dipertahankan 4,5 persen

“Rata-rata semua proyeksi itu akan berkurang bahkan menurun, perekonomian di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan tapi pemulihan ekonomi akan tetap berlangsung tapi durasiny alebih lambat dari perkiraan sebelumnya,” jelas Henry dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 22 September 2021.

Berbagai negara berkembang di seluruh penjuru dunia masih dalam kondisi ketidakpastian karena penularan virus Covid-19 termasuk Indonesia. Segala sesuatu dan kemungkinannya harus tetap diwaspadai dan jangan lelah, artinya pemulihan kondisi kesehatan masih menjadi ancaman dan masih terus diutamakn ketimbang yang lainnya.

“Kita semua harus mengenal mengenai headwindbukan hanya di Indonesia saja melainkan di seluruh kawasan di Indonesia,” pungkasnya.

BI Prediksi Pemulihan Ekonomi di RI Tetap Berlanjut

BI Prediksi Pemulihan Ekonomi di RI Tetap Berlanjut

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa tren pemulihan ekonomi global di perkirakan masih terus berlanjut.

Baca juga: Ini Syaratnya, Jika Pendapatan Per Kapita RI Bisa Lampaui USD 10 Ribu

Kendati demikian, pihaknya tetap harus berhati-hati dan mewaspadai dampak yang ditimbulkan akibat kemunculan kasus varian baru virus Covid-19 dan juga gangguan dalam rantai pasokan yang terjadi beberapa negara di dunia.

“Misalnya seperti di Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, perkembangan dalam pemulihan ekonomi para semester kedua di tahun 2021 cenderung bisa dikatakan lebih lambat dari dugaan sebelumnya,” ujarnya dalam Konferensi Pers Media di Jakarta secara online pada Selasa, 21 September 2021.

Sementara itu, laju pemulihan ekonomi cenderung relatif lebih tinggi pada kawasan di negara-negara Eropa dan juga Amerika Latin. Dengan begitu, diharapakan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi global dan laju pertumbuhan di negara-negara berkembang di seluiruh dunia.

Ekonomi Indonesia Diyakini Bisa Tumbuh 7 %, Ini Syaratnya Kata Pendiri Indef

Pendiri Indef Yakin Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 7 Persen, Ini Syaratnya

Didik J Rachbini Pendiri Institure for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan bahwa strategi menarik investasi bisa mendorong ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga 7 persen. Di sisi lain juga harus ada dorongan dari pemerintah untuk industri yang berdaya saing dan berorientasi ekspor.

“Pada saat ini kita bisa menerobos stagnasi di angka 5 persen, saya mengusulkan gunakan strategi industri, investasi, dan ekspor,” jelas Didik di Jakarta pada Rabu 8 September 2021.

Maka dari itu, pemerintah harus mendorong investasi ke sektor industri agar bernilai tambah. Dengan begitu, negara bisa mendapatkan sumber pendapatan dan mesin pertumbuhan untuk ekonomi yang lebih masif.

Lebih dari itu, hasil produksi dari industri harus bisa diekspor. Maka proses ekspor dalam produk ini juga harus dilakukan agar lebih efisien. “Pada saat ekspor, upaya efisiensi harus dilakukan oleh pabrik,” menurutnya.

Didik juga menilai kekuatan ekonomi di dalam suatu negara bisa diukur dari hasil produk yang dihasilkan. Sehingga ketika bersaing di pasar internasional bisa terlihat apakah nasibnya akan menjadi lebih baik. Kondisi yang seperti ini bisa didukung oleh strategi investasi yang berdaya saing dan berkualitas. Kemudian dari pada itu, sektor-sektor industri yang lebih dominan harus dikembangkan.

Strategi Ekspor Industri

Strategi Ekspor Industri

Strategi promosi ekspor ini akan menghapus berbagai permasalahan melalui penyesuaian struktural pada produksi yang efisien untuk bisa dan mampu berdaya saing di kancah pasar internasional. Maka dampaknya akan memperkuat posisi eksternal yaitu gejolak di perekonomian internasional dan devisa negara.

Selain itu, strategi ini juga akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan proses substitusi barang manufaktur. Meski demikian, selain di sektor ekonomi masih dapat dilakukan investor dalam sektor pariwisata dan sektor kuliner. Karena dengan investasi tersebut, bisa menghasilkan dolar untuk Indonesia.

Baca artikel terkait: Indonesia Berpotensi Jadi Negara Kelas Menengah Atas

Namun, dalam hal ini, investasi bukan merupakan satu-satunya yang harus menjadi strategi dan inti yang diusulkan. Sektor pariwisata juga bisa menjadi investasi namun harus fokus ke hal utama yakni ke dunia industri,” paparnya.

“Kalau kita bisa menekan angka covidnya, tanpa membuat guncangan di ekonomi, ini lah yang dinamakan keberhasilan. Dan target kita kurang lebih sekitar 7 persen harus bisa tercapai. Kalau itu bisa tercapai, Insya Allah kita pada kuartal berikutnya akan lebih memudahkan. Sehingga ekonomi bisa tumbuh dan terus berkembang untuk masa depan nanti” ungkapnya.

Indonesia Berpotensi Jadi Negara Kelas Menengah Atas

Indonesia Berpotensi Jadi Negara Kelas Menengah Atas

Negara-negara yang termasuk bagian dari Asia Timur sudah sukses masuk menjadi golongan negara maju. Itu semua disebabkan karena negera-negara tersebut merubah cara pandang dengan menguasai rantai pasok perdagangan global bukan lagi mengelola komoditas primer.

Ahmad Erani Yustika, Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Brawijaya mengatakan bahwa negara-negara di Asia Timur mampu mengubah rantai pasok domestik hingga kapasitasnya menjadi rantai pasok global atau internasional.

“Mereka yang termasuk bagian dari negara-negara di kawasan Asia Timur mampu mengubah rantai pasok dari yang domestik menjadi ke global sehingga mampu menguasai pasok global”ujar Erani pada Rabu, 8 Septermber 2021.

Lain halnya dengan Indonesia, yang posisi daya tawarnya bukan dari sektor industri. Diperkirakan Indonesia di tahun 2030 sudah menjadi negara dengan pendapatan menengah keatas. Karena jika dilihat dari populasi pendukduknya yang 20 persen atau 50 sampai 60 juta orang sudah masuk dalam jajaran orang dengan kelas menengah tinggi.

“Ada sekitar 20 persen dari jumlah penduduk di Indonesia atau setara dengan 50-60 juta sudah termasuk orang-orang dengan kelas menengah atas. Karena daya belinya yang sangat tingg dna luar biasa bisa menggerakan ekonomi di dalam negeri,” katanya.

Untuk Menjadi Negara Maju, Ada Beberapa Isu yang Harus Dikelola

Untuk Menjadi Negara Maju, Ada Beberapa Isu yang Harus Dikelola

Pendapatan per kapita orang-orang dengan kelas menengah tinggi ini sama dengan pendapatan per kapita negara Malaysia. Hal ini yang bisa dijadikan modal untuk membawa indonesia untuk masuk ke dalam pasar global karena potensinya yang sangat besar dan bisa ditingkatkan lagi bila terus dijaga.

Maka dari itu, ada sekita tiga isu yang harus dikeloka oleh Indonesia dari sejak dini untuk menjaga pemerataan perutumbuhan ekonomi yang kian meningkat ini. Isu yang pertama yaitu isu-isu demokrasi yang berkaitan dengan pemerataan ekonomi dalam berbagai sektor.

Isu kedua yaitu tentang literasi digital. Saat ini dan di masa depan, teknologi sudah tidak bisa dipisahkan lagi dalam kehidupan kita. Sudah menjadi kebutuhan primer untuk semua manusia di seluruh dunia. Maka dari itu perbaikan dan pemerataan akses digital teknologi harus selalu dikelola dengan baik.

Isu yang ketiga yakni iklusivitas investasi. Dalam hal ini, pengggunaan teknologi dan informasi sudah tidak dapat lagi dipisahkan. Ini juga termasuk pemerataan investasi dan kelestarian alam lingkungan. Masyarakat Indonesia harus melek finansial dan  juga melek digital agar bisa hidup berdampingan teknologi yang canggih ini.

Baca juga artikel lain: Tok! Jokowi Resmi Revisi Penetapan Harga BBM, Ini Rinciannya

Prediksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Menguat Lagi?

Prediksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Menguat Lagi?

Hari ini, Selasa, (7/9/2021) diprediksikan dalam pasar nilai tukar rupiah terharap dolar Amerika Serikat (AS) akan mengalami penguatan. Hal ini terlihat dari pasar Non-Deliverable Market (NDF) yang sudah menunjukkan tanda-tanda.

Pasar NDF merupakan salah satu instruksi yang memperdagangkan mata uang tertentu dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu juga. Pasar NDF hanya tersedia di negara-negara yang menjadi pusat keuangan perdagangan internasional.

Negara-negara itu diantaranya New York, Singapura, Hong Kong dan juga London. Untuk di Indonesia sendiri belum ada pasar NDF sebelumnya.

Seringkali pasar NDF ini mempengaruhi psikologis dalam pembentukan harga di pasar spot. Padahal sebelumnya, pasar NDF ini dulunya hanya dimainkan oleh investor-investor asing. Namun seringkali kurang memahami kondisi fundamental dalam perekonomian di Indonesia.

Maka dari itu, Bank Indonesia (BI) membentuk pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF). Pasar DNDF ini sendiri merupakan transaksi derivatif standar (plan vanilla) berupa transaksi forward yang dilakukan dengan mekanisme fixing dan juga mta uang dalam penyelesaiannya dalam Rupiah.

Respons Negatif Pasar yang Membuat Rupiah Menguat

Respons Negatif Pasar yang Membuat Rupiah Menguat

Josua Pardede selaku VP Economist Permata Bank mengatakan, prediksi penguatan rupiah hari ini dikarenakan respon negatif pasar terhadap data Non-Farm Payroll (NFP) pada periode Agustus kisaran 235 ribu, yang pada bulan sebelumnya lebih rendah sebesar 1,05 juta.

Perdagangan pada hari ini, Selasa (7/9/2021) menurutnya, masih cukup terbuka sehingga peluang terhadap penguatan rupiah masih ada. Sentimen pendukungnya ialah Sukuk Negara yang dilaksanakan dengan terget sebesar 10 triliun. Pemerintah RI mempunyai peraturan tersendiri dalam menaikkan Suku Negara tersebut dan perhitungan yang matang untuk pembiayaan resesi dalam jangka menengah hingga ke atas.

Baca juga: Citibank Mau Keluar dari Indonesia, Bangkrut?

Hingga saat ini jika memantau harga perdagangan Asia, para pelaku pasar yang mencermati rilisnya data ekonomi China seperti neraca pada perdagangan bulan Agustus lalu. Diperkirakan, kinerja ekspor China cenderung lebih lambat dari bulan-bulan sebelumnya yang mengalami peningkatan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan diprediksikan menguat hari ini hingga sampai batas Rp. 14.400. Jika dilihat dari hari-hari sebelumnya nilai tukar rupiah selalu menguat, maka hari ini pun dipastikan prediksi tidak akan melesat. Karena melihat kondisi perdagangan Asia dan data yang ada, bisa menjadikan peluang untuk rupiah bisa lebih naik lagi hingga di atas yang di prediksikan.

“Sejauh ini yang di lihat, Rupiah diprediksikan akan berada direntang antara Rp14.300 – Rp14.400.” lanjutnya.

Citibank Mau Keluar dari Indonesia, Bangkrut?

Citibank Mau Keluar dari Indonesia, Bangkrut?

Dikabarkan bahwa bisnis Citigroup Sekuritas melalui PT. Citigroup Sekuritas Indonesia mau keluar dari Tanah Air. Apakah penyebab dan dampaknya bagi Indonesia?

Dalam waktu 2 tahun terakhir, beberapa perusahaan asing sudah meninggalkan Indonesia seperti Deutsche Sekuritas, Nomura Sekuritas dan Merril Lynch.

Menurut Puni A. Anjung sari yang merupakan Country Head of Corporate Affairs Citibank Indonesia mengatakan, bahwa pihaknya belum bisa menjelaskan komentar apapun terkait kabar tersebut yang sudah beredar di market.

Meski demikian, dia pun enggak berkomentar apapun soal nasib bisnis sekuritasnya. Akan tetapi, dia meyakinkan bahwa Citibank Indonesia tetap beroperasi normal seperti biasa.

“Sejauh ini Citi masih memberikan layanan yang memuaskan bagi para nasabahnya seperti biasanya dan kami belum bisa berkomentar apapun terkait isu yang beredar di pasar.” ujar Puni kepada para media di Indonesia.

Jauh sebelum ini, yang perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya Citi sudah keluar dari bisnis konsumer di 13 negara selain Indonesia. Tapi, bisnis sekuritas dan obligasi serta bisnis pendapatan tetap akan terus dipertahankan di Indonesia.

Baca juga: Wah Keren! Negara Ini Akan Bisa Bertransaksi Menggunakan QRIS

John Tambunan selaku Direktur Citigroup Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa yang akan meninggalkan Indonesia adalah hanya bisnis Retail Consumer sedangkan perbankan masih terus beroperasi hingga saat ini.

“Business Retail Consumer akan ditutup di Indonesia, akan tetapi Business Corporate Banking masih terus terus berjalan seperti biasanya.” pungkas John Tambunan.

Kedepannya, Citigroup Indonesia akan terus melayani dan beroperasi di Indonesia dalam unit Institutional Clients Group (ICG) diantaranya: MSS (Market and Securities Service / Custodian), dan TTS (Treasury and Trade Solutions).

Selain dari pada yang sudah disebutkan diatas, untuk layanan Banking Capital Market Advisory (BCMA) teruntuk nasabah-nasabah institusional diantaranya perusahaan lokal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lembaga pemerintahan, keuangan, dan perusahan multinasional.

PT. Citigroup Sekuritas Indonesia juga masih memberikan pelayanan di pasar modal dan Citi Commercial Bank (CCB).

Citigroup Sekuritas Hengkang dari Bisnis Retail Banking

Citigroup Sekuritas Hengkang dari Bisnis Retail Banking

Jane Fraser selaku CEO Citi membuat keputusan yang memfokuskan bisnis Global Consumer Bank di Asia dan EMEA (Europe, the Middle East and Africa) yang menjadi pusat keuangan dunia seperti Singapura, London, Hong Kong, dan UEA (Uni Emirat Arab).

Maka dari itu, Citi akan keluar dari bisnis retail banking di sejumlah 13 negara yaitu Indonesia, Australia, Malaysia, Korea, Filipina, India, Thailand, Vietnam, Taiwan, Cina, Bahrain, Polandia, dan Rusia.

Ini merupakan strategi dari bagian perkembangan bisnis perusahaan dan merupakan langkah keberlanjutan bisnis untuk kedepannya menurut Jane, yang menjabat posisi CEO pada bulan lalu.

Wah Keren! Negara Ini Akan Bisa Bertransaksi Menggunakan QRIS

QRIS Bank Indonesia

Perry Warjiyo yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa QRIS akan bekerja sama antarnegara di seluruh penjuru dunia. Sebelumnya juga sudah bekerja sama dengan Thailand melalui Bank of Thailand untuk melakukan kerja sama.

Menurut keterangan dari Bank Indonesia, nantinya QRIS akan menggandeng negara Singapura hingga negara Arab Saudi untuk melakukan pembayaran non tunai di negara-negara tersebut.

Diharapkan dengan adanya kerja sama antar negara di dunia, QRIS dapat berkembang hingga sampai ke pelosok dunia.

Hal ini juga nantinya akan memudahkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri baik yang sedang melakukan kunjungan wisata maupun kunjungan ibadah keagamaan.

“QRIS akan bisa digunakan di Negara Arab Saudi untuk menunjang pembayaran transaksi non tunai untuk para jemaah umroh atau haji Indonesia di di sana” pungkas Perry pada acara Webinar Hari Pelanggan Nasional 2021, Jumat (3/9/2021).

Baca juga: Inilah Tarif Bea Keluar CPO dan Turunannya 2021

QRIS Antarnegara Mulai Beroperasi, Hadiah Ulang Tahun Indonesia

QRIS Bank Indonesia

Tepat pada Hari Kemerdekaan, Bank Indonesia meluncurkan Standard Nasional Open API Pembayaran (SNAP) dan telah merilis pra-resmi QRIS antarnegara. Di Indonesia sendiri, pembayaran dengan menggunakan QR Code sudah dapat dilakukan melalui QRIS untuk bertransaksi non tunai antar bank di seluruh Indonesia.

“Dengan hadirnya QRIS memungkinkan transaksi antar koneksi bisa melalui satu pintu QR Code sehingga memudahkan para pelaku UMKM maupun konsumen bertransaksi dengan mudah dan nyaman.” ujar Rosmaya Hadi selaku Deputi Gubernur BI.

“Diharapkan dengan menggunakan QRIS ini masyarakat di seluruh Indonesia betul-betul merasakan dampaknya, akan menjadi sangat maju dalam perkembangan perekonomian di Indonesia. Setelah itu kita akan uji coba antarnegara untuk menjadikannya lebih maju” lanjutnya.

Jadi, baik penjual maupun pembeli antarnegara bisa melakukan dan menerima pembayaran secara non tunai melalui QR Code untuk lintas batas instan produk berupa barang dan jasa tanpa adanya halangan.

Selain Thailand, BI juga sudah menggarap project QRIS ini untuk bisa bekerjasama dengan Bank Negara Singapura dan Malaysia. Nantinya, untuk memperluas dan mengujicoba Standar nasional QR Code untuk kedua negara tersebut.

“Setelah Arab Saudi, Malaysia, dan juga Thailand kemudian juga Singapura. Target BI di tahun ini akan menargetkan sekitar 10 hingga 12 juta merchart di negara-negara tersebut untuk mendukung keberlanjutan proses transaksi dalam berbagai sinergi.” ujarnya pada saat Upacara Pembukaan JAKREATIFEST 2021 secara virtual, Senin lalu.

Inilah Tarif Bea Keluar CPO dan Turunannya 2021

Inilah Tarif Bea Keluar CPO dan Turunannya 2021

Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 45 Tahun 2021 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

Peraturan ini telah dikeluarkan pada tangggal 28 Juli 2021 melalui Kementerian Perdagangan dan berlaku sejak 1 Agustus 2021 lalu. Baca disini: Link Permendag Nomor 45 Tahun 2021.

Dalam ketentuan tersebut harga Crude Palm Oil (CPO) yang direferensikan akan ditetapkan sebesar US$1.050/MT. Harga referensi tersebut menjadi pedoman untuk menentukan tarif Bea Keluar dan Tarif Pemungutan Ekspor untuk komoditi Kelapa Sawit, CPO, dan produk-produk turunan lainnya mulai periode 1 hingga 31 Agustus 2021.

Ketentuan itu juga mengatur daftar merek RBD Palm Olein dalam kemasan bermerek dengan berat Netto ≤ 30 (tiga puluh kilogram) dengan Pos Tarif ex 1511.90.36 meliputi merek luar negeri dan merek dalam negeri.

“Saat ini harga referensi CPO kembali mengalami peningkatan setelah bulan lalu menurun,” kata Plt Direktur Jenderal Perdagagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia yang dikutip dari siaran pers, Kamis, 2 September 2021.

Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan bahwa, harga referensi CPO pada periode September masih jauh melampaui threshold US$750/MT.

Kemudian dia menjelaskan BK CPO untuk bulan September 2021 yang merujuk pada Kolom 10 Lampiran I Huruf C di Peraturan Kementerian Keuangan (Permenkeu) Nomor 166/PMK.010/2020 sebesar USD 170/MT. Nilai itu berubah dari BK CPO untuk periode bulan Agustus 2021, yakni senilai USD 95/MT.

Harga Referensi Biji Kakao Periode Bulan September 2021

Harga referensi CPO Juli 2021

Sementara itu, harga referensi biji kakao pada periode bulan September 2021 sebesar USD 2.518/MT meningkat 4,28 persen atau USD 100,40 dari bulan sebelumnya, yaitu sebesar USD 2.450/MT.

“Hal ini berdampak pada peningkatan HPE biji kakao pada bulan September 2021 menjadi USD 2.265/MT, meningkat sebesar 4,94 persen atau USD 99 dari periode sebelumnya, yaitu sebesar USD 2.08.

Baca juga artikel lainnya :

Hari Ini, Kamis 2 September 2021 Harga Emas 24 Karat Antam Turun

Adapun penetapan ini tercantum di dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 51 Tahun 2021 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.

Di samping itu, ia pun menuturkan bahwa peningkatan harga referensi CPO dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi CPO namun produksi CPO global mengalami penurunan akibat pandemi virus COVID-19. Sementara itu, peningkatan harga referensi dan HPE biji kakao sejalan dengan naiknya permintaan kakao dunia.

“Peningkatan ini tidak berdampak pada BK biji kakao, yaitu tetap 7%. Hal tersebut tercantum pada Kolom 2 Lampiran I Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 166/PMK.010/2020,” pungkasnya.

Indra juga menambahkan untuk HPE produk kulit dan kayu tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya. Begitu pula untuk BK komoditas produk kayu dan produk kulit.

Demikianlah informasi tentang Inilah Tarif Bea Keluar CPO dan Turunannya 2021. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

Hari Ini, Kamis 2 September 2021 Harga Emas 24 Karat Antam Turun

Harga emas PT. ANTAM turun hari ini

PT. Aneka Tambang Tbk. pada hari ini Kamis (2/9/2021) mengungkapkan bahwa harga emas batangan 24 karat mengalami penurunan dibandingkan kemarin.

Menurut informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas 24 karat ukuran 1 gram dijual senial Rp. 939.000 atau turun Rp. 2.000 dari posisi kemarin Rabu (1/9/2021).

Dan untuk harga emas satuan terkecil dengan ukuran 1/2 atau 0,5 gram dijual senilai Rp. 519.500 atau turun Rp. 1.000 dari harga kemarin.

Sementara lebih lanjut, untuk harga emas 24 karat dengan ukuran 5 gram pada hari ini dijual senilai Rp. 4.4470.000. Lebih lanjut emas batangan dengan satuan 10 gram dijual senilai Rp. 8.885.000

Harga emas untuk satuan 50 gram dijual senilai Rp. 44.095.000 sedangkan untuk satuan 100 gram bisa dijual senilai Rp. 88.112.000. Adapun untuk ukuran 1.000 gram dibanderol dengan harga Rp. 879.600.000.

Untuk saat ini, emas batangan Antam dengan cetakan 500 gram belum tersedia.

Sementara itu, harga jual atau buyback emas Antam berada per gramnya berada pada level Rp. 832.000, turun sebesar Rp. 2.000 dari harga kemarin Rabu (1/9/2021)

Harga jual kembali tersebut saat ini belum mempertimbangkan nilai pajak jika nominalnya bisa lebih dari Rp. 10.000.000

Harga Emas Antam Turun Lagi, Saatnya Investasi!

Harga Emas Antam hari Ini Kamis 2 September 2021 turun

Menurut PMK No. 34/PMK. 10/2017, penjualan kembali emaas batangan ke PT. Aneka Tambang Tbk. dengan nominal bisa lebih dari Rp. 10.000.000, dam dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen (berlaku untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP).

PPh 22 tersebut atas teransaksi pembelian kembali (buyback) langsung dipotong dari nilai total buyback.

Baca juga: Pernyataan Sri Mulyani Soal Pemulihan Ekonomi RI, Malaysia dan Singapura Belum Pulih

Selanjutnya untuk pembelian emas batangan akan dikenakan biaya PPh 22 sebesar 0,45 persen (bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi yang tidak memiliki NPWP. Sebagai catatan untuk setiap pembelian emas batangan harus disertai dengan bukti potongan PPh 22.

Sementara menurut harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX naik 0,11 persen menjadi US$1.818 per troy ons. Begitu juga dengan harga emas di perdagangan spot naik 0,01 persen ke US$1.814,08 per troy ons pada pagi ini.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra memperkirakan harga emas di pasar internasional akan menguat dengan bergerak di kisaran US$1.800 sampai US$1.830 per troy ons pada hari ini. Penguatan emas dipengaruhi oleh faktor teknikal.

Pasalnya, menurut Ariston, sebenarnya belum ada sentimen baru bagi pergerakan harga emas. Investor masih menanti data ekonomi AS untuk menggerakkan pasar, misalnya data ketenagakerjaan dan tunjangan pengangguran AS.

“Bila data menunjukkan kenaikan jumlah klaim yang artinya jumlah pengangguran bertambah, dolar AS berpeluang melemah dan harga emas menguat, dan sebaliknya,” kata Ariston kepada media terpercaya.

Sekian informasi yang telah kami bagikan pada situs https://best-bestwebhosting.com/. Sampai jumpa di artikel berikutnya!