Ekonomi Afghanistan Menuju Kehancuran, JK: Jika Taliban Tak Berubah

Ekonomi Afghanistan Menuju Kehancuran, JK: Jika Taliban Tak Berubah

Sebulan sudah negara Afghanistan dikuasai oleh Taliban namun nyata ekonomi di Afghanistan di ambang kehancuran. Meski Taliban sudah diberikan peringatan berulang kali secara tak langsung. Dalam forum internasional, bos besar PBB itu sudah menegaskannya bahwa ancaman kehancuran ekonomi yang akan dialami oleh negara tersebut.

Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Jusuf Kalla (JK) pun ikut mengomentari hal tersebut. Ia meyakini bahwa konflik permasalahan yang terjadi di Afghanistan akan terus berlanjut jika Taliban tetap memmpin dengan gaya yang eksklusif atau tertutup seperti 20 tahun lalu.

“Semoga mereka mau berubah. Kalau pun mereka tidak berubah seperti sebelumnya, maka lihat saja ke depannya nanti ekonominya akan hancur dengan sendirinya. Jika ekonominya hancur lebur, makan sistem pemerintahan tidak akan berjalan sehingga pada akhirnya nanti akan timbul anti-Taliban yang akan muncul dan bergerak, maka berujung terjadinya konflik lagi,” jelas JK dalam acara Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilizations yang dilakukan dalam bentuk webinar pada hari Jumat, 3 September 2021.

Kemudian JK juga melanjutkan, hanya akan ada tiga negara yang akan mengakui Afghanistan jika sistem pemerintahan yang dipakai Taliban dilakukan secara tertutup. Tiga negara itu di antaranya Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Menurutnya, keadaan tersebut yang akan menghambat berbagai investasi masuk ke Afghanistan. Dengan demikian, makan negara tersebut sudah tak punya modal lagi untuk menjalankan sistem pemerintahan, pembangunan dan roda perekonomiannya.

“Untuk masalah ekonomi, Afghanistan termasuk negara yang kaya, namun mereka tidak mampu untuk mengolahnya,” lanjut JK.

Sebelumnya, Afghanistan memanas dengan Amerika Serikat (AS) setelah AS menarik seluruh pasukannya dari negara Afghanistan. Akhirnya Taliban pun mampu menguasai tampuk pemerintahan setelah kurang lebih 20 tahun lamanya terasingkan.

Setelah Taliban berhasil menguasai Kabul, banyak negara di seluruh penjuru dunia untuk memulangkan warga negaranya, termasuk negara kita tercinta, Indonesia. Bahkan tak sedikit dari negara-negara lain yang tidak percaya dan meragukan akan kepemimpinan Taliban nantinya dikarenakan catatan sejarah sebelumnya.

Meski demikian, Taliban berjanji kepada seluruh dunia, bahwa dirinya berjanji akan berubah dan menjamin serta memastikan akan menjalankan sistem pemerintahannya dengan terbuka.

Diramalkan Hancur oleh PBB

Diramalkan Hancur oleh PBB

Wakil Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afghanistan yakni Deborah Lyons mengungkapkan, bahwa, untuk ke depannya nanti akan ada kehancuran yang akan terjadi di negara yang sekarang dikuasai oleh pasukan Taliban.

Hal ini terkait dengan pemmbekuan aset triliunan dolar yang dimiliki negara itu, yang dilakukan untuk mencegahnya jangan sampai jatuh ke tangan Taliban. Hal tersebut diyakini juga memicu kemerosotan ekonomi hingga berdampak buruk dan mendorong jutaan lebih warga ke dalam dunia kemiskinan dan kelaparan.

Dirinya juga mengatakan bahwa harus ada jalan yang dibuka lebar agar keuangan tersebut dapat mengalir ke Afghanistan. Nyatanya, pengamanan yang maksimal itu disalahgunakan.

“Ekonomi harus bisa bernafas dengan lega dalam beberapa bulan ini,” ujarnya kepada Dewan Keamanan PBB, pada hari Kamis 9 September 2021.

“Memberi Taliban kesempatan untuk menunjukkan fleksibilitas dan keinginan tulus untuk bisa melakukan hal-hal yang berbeda pada kali ini di bidang gender, Hak Asasi Manusia (HAM), dan juga kontra terorisme.

Diketahui aset yang di miliki oleh Afghanistan mencapai USD 10 triliun, ini bisa dianggap menjadi kunci barat dalam menekan perilaku Taliban.

Salah satunya yang terparkir di bank sentral AS, The Fed. Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memblokir USD 440 juta atau setara dengan Rp. 6,2 triliun uang cadangan darurat baru Afghanistan.

Baca Lain: Sri Mulyani Waspadai Gejolak Ekonomi Global Berlanjut ke 2022

“Taliban saat ini sedang mencari legitimasi dan dukungan dari para negara internasional lainnya. Pesan singkat kami hanya sederhana: (jika ingin) legitimasi, dukungan semacam apa pun harus diperolehnya,” ungkap Diplomat Senior AS, Jeffrey DeLaurentis, dalam pertemuan forum PBB tersebut.

Di sisi lain, ketika negara-negara barat sedang menjepit ‘Taliban’, China malah menggandeng dan saling bermesraan kepada kelompok tersebut. Diketahui Beijing memutuskan untuk bekerja sama dengan memberikan dabna bantuan sebesar USD Rp. 31 juta atau setara dengan Rp. 440 miliar.