Myanmar Krisis Ekonomi, Emak-Emak Melahirkan di Hutan

Myanmar Krisis Ekonomi

Perebutan kekuasan yang sudah berlangsungdi di Myanmar berhasil dimenangkan militer. Namun mereka gagal memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya perempuan yang sangat merasakan dampak dari kekuasan baru militer. Seperti dari hasil yang diberikan oleh bank dunia akhir-akhir ini, Myanmar mengalami ekonomi yang merosot.

Prakiraan ekonomi Myanmar disebut minus 18 persen pada 2021, terparah di Asia Tenggara. Belum lagi permasalahan mengenai pengungsian yang semakin parah, lebih dari 206 ribu penduduk lokal Myanmar kabur dan mengungsi. Karena merasa terancam keselamatan mereka dengan adanya kudeta miliar, mirisnya seorang ibu melahirkan di hutan tertangkap media dunia.

Hal ini membuat seluruh dunia menarik simpati terhadap kehidupan di Myanmar. Saat ditanyai wanita tersebut mengatakan tidak ada pilihan untuk bisa bertahan hidup. Menjauhkan diri dari kekejaman pemerintahan militer Myanmar adalah pilihan yang tepat dibanding harus melahirkan didalam hutan tanpa pertolongan medis.

Ibu Hamil di Myanmar Melahirkan Dalam Diam Agar Tak Ketahuan Militer

Ibu Hamil di Myanmar Melahirkan di Hutan

Pasca konflik kudeta perebutan kekuasaan Myanmar, disaat itu juga sedang banyak ibu hamil. Banyaknya wanita yang ketakutan dengan sistem pemerintahan dinegara mereka tersebut. Sehingga memutuskan untuk kabur dan bersembunyi di hutan, mereka terpaksa melahirkan dalam diam agar tak ketahuan militer.

Rosemary (nama samaran) adalah salah satu warga yang sedang hamil di desa Mindat. Ia terbaring dalam kegelapan sambil menahan kontraksi ketika bidan dengan nama samaran Mai Nightingale datang menolongnya.

“Hanya kami berdua yang tinggal di desa. Kami menutup semua pintu juga jendela dan tetap diam di dalam. Ketika dia merasa sakit, saya memasukkan selimut ke mulutnya karena takut tentara akan mendengarnya,” kata Mai Nightingale.

BACA JUGA → Krisis Energi Uni Eropa

Hingga sekarang kekacauan Myanmar masih terus berlanjut, dampak trauma sudah mulai dirasakan kalangan wanita. Kekejaman militer ini bukan cuma menyerang warga sipil, bahkan militer berani untuk menghentikan bantuan pemasok makanan dan air yang dikirim kan ke Myanmar.

Kudeta yang berlangsung sejak 1 Februari 2021 juga sudah banyak memakan korban warga & tentara sipil. Pemerintahan negara seolah mati dan tidak ada disana, krisis ekonomi tidak akan membaik jika militer masih berkuasa dan melakukan kudeta.