Proyek Kereta Cepat, KAI Butuh Modal Gede Segini Kisarannya

KAI akan menjadi pemegang saham mayoritas di konsorsium proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) atau yang sering disebut dengan KAI akan menjadi ‘Bos’ untuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung. PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk merupakan lead konsorsium sebelumnya yang akan digantikan oleh KAI.

Rencana tersebut dijabarkan oleh Mahendra Vijaya yang merupakan Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya. Menurutnya, KAI juga akan menambahkan modal di PT. Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

PSBI merupakan induk konsorsium yang beranggotakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni Wijaya Karya, KAI, Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT. Perkebunan Nusantara VIII atau PTPN VIII.

60 persen saham di proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dimiliki oleh konsorsium ini, yakni PT. Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Sisanya dimiliki oleh Beijing Yawan HSR Co.Ltd.

Menurut data yang dihimpun, pemegang saham terbesar di PSBI ialah Wijaya Karya dengan total 38 persen. Kemudian 25 persen untuk masing-masing dimiliki oleh KAI dan PTPN VIII dan sisanya 12 persen dipegang oleh Jasa Marga.

“Menuru data informasi yang tercatat, KAI akan menambah setoran modalnya ke PSBI yang merupakan pemegang saham diantara yang lainnya.” ujar Mahendra kepada awak media.

Kalau pemegang saham mayoritas ialah KAI, maka kewajiban dan hak KAI di proyek tersebut juga besar. Kewajiban yang harus dilakukan yaitu menambah modal semakin besar dan keuntungan yang didapat akan semakin besar merupakan haknya.

“Jika ingin mengetahui lebih jelasnya, silakan konfirmasi ke humas Kementerian BUMN karena hal tersebut wewenang pemerintah bukan KAI” terangnya.

Namun yang pasti, KAI siap menjadi lead konsorsium jika diberikan kewenangan oleh pemerintah. Kemudian ia juga tidak mau lebih banyak berbicara soal rencana tersebut.

“Pada prinsipnya, KAI selalu siap mengikuti aturan yang menjadi kebijakan dari pemerintah” ujar Joni.

Baca juga: Investasi Emas Bisa Jadi ‘Sultan’? Syaratnya Cuma Ini

Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Jadi Membengkak

Toto Pranoto, peneliti BUMN Research Group Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI) menyebut bahwa perubahan komposisi saham mayoritas PSBI berkaitan dengan kinerja perusahaan yang makin memburuk pada tahun 2020 lalu.

“Hal yang menyebabkan kinerja Wijaya Karya memburuk dikarenakan mengalami kesulitan akibat efek pandemi covid19. Maka, leader konsorsium tidak bisa dipertahankan lagi” ujar Toto

Menurut catatan keuangan Wijaya Karya, perusahaan mengalami penurunan dalam hal laba bersih dari Rp. 2,28 triliun menjadi Rp. 185,76 miliar pada tahun 2020 kemarin.Pendapatan juga menurun dari Rp. 27,21 triliun menjadi Rp. 16,53 triliun.

Laba bersih perusahaan tersebut yang kian merosot pada awal semester 1 2021, turun 66 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp. 250,41 miliar dan hanya mengantongi Rp. 83,41 miliar per Juni 2021.

KAI menyebutkan bahwa kebutuhan investasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung mengalami pembengkakan dari Rp. 86,67 triliun menjadi sekitar Rp. 114,24 triliun.