Virus Baru Covid-19 Terus Bermunculan, Pemulihan Ekonomi Terhambat

Virus Baru Covid-19 Terus Bermunculan, Pemulihan Ekonomi Terhambat

Dampak Pandemi Covid-19 dirasakan oleh berbagai negara di seluruh dunia. Terutama di negara-negara berkembang, pertumbuhan ekonomi jadi terhambat. Pemulihan ekonomi global yang diharapkan tahun ini tampaknya tidak semudah yang diperkirakan sebelumnya dan selalu menghadapi tantangan yang berat. Apalagi munculnya varian Delta Covid-19, banyak negara-negara terutama di negara berkembang yang mengalami kecemasan dalam menghadapi varian baru kasus Covid-19 tersebut.

Henry Ma, Senior Country Economist Asian Development Bank (ADB) mengatakan, bahwa beberapa negara berkembang di seluruh dunia mengalami penyesuaian target pemulihan ekonomi karena adanya varian baru virus Covid-19. Sebenarnya masih bisa pulih namun mungkin durasi pulihnya tidak secepat dugaan awal.

Kondisi tersebut yang menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi di suatu negara di seluruh dunia yang sudah ditetapkan tahun ini. Beberapa dari lembaga dunia sudah mulai memangkas proyeksi ekonomi bila tidak penting, untuk menjaga-jaga suatu waktu negara-negara tersebut mengalami krisis dalam hal keuangan.

Misalnya lembaga ADB sendiri yang sudah merevisi turun proyeksi ekonomi di Asia tahun ini dari yang sebelumnya 7,30 persen menjadi 7,20 persen. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Asia tahun depan akan dinaikkan menjadi 4,4 persen dari perkiraan sebelumnya yang hanya 5,3 persen. Untuk China sendiri, ADB mempertahankan perkiraan pertumbuhan tahun ini yang dari 8,1 persen menjadi 5,5 persen di tahun depan. Namun, untuk proyeksi pertumbuhan India tahun ini diturunkan dari yang 11 persen menjadi 10 persen dan dari yang 7 persen menjadi 7,5 persen untuk tahun depan.

Untuk ASEAN sendiri, ADB pun merevisi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 sebagai berikut:

– Indonesia dari 4,5 persen menjadi 4,1 persen
– Malaysia dari 6 persen menjadi 5,5 persen
– Thailand dari 3 persen menjadi 2 persen
– Singapura dari 6 persen menjadi 6,3 persen
– Vietnam dari 6,7 persen menjadi 5,8 persen
– Filipina dipertahankan 4,5 persen

“Rata-rata semua proyeksi itu akan berkurang bahkan menurun, perekonomian di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan tapi pemulihan ekonomi akan tetap berlangsung tapi durasiny alebih lambat dari perkiraan sebelumnya,” jelas Henry dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 22 September 2021.

Berbagai negara berkembang di seluruh penjuru dunia masih dalam kondisi ketidakpastian karena penularan virus Covid-19 termasuk Indonesia. Segala sesuatu dan kemungkinannya harus tetap diwaspadai dan jangan lelah, artinya pemulihan kondisi kesehatan masih menjadi ancaman dan masih terus diutamakn ketimbang yang lainnya.

“Kita semua harus mengenal mengenai headwindbukan hanya di Indonesia saja melainkan di seluruh kawasan di Indonesia,” pungkasnya.

BI Prediksi Pemulihan Ekonomi di RI Tetap Berlanjut

BI Prediksi Pemulihan Ekonomi di RI Tetap Berlanjut

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa tren pemulihan ekonomi global di perkirakan masih terus berlanjut.

Baca juga: Ini Syaratnya, Jika Pendapatan Per Kapita RI Bisa Lampaui USD 10 Ribu

Kendati demikian, pihaknya tetap harus berhati-hati dan mewaspadai dampak yang ditimbulkan akibat kemunculan kasus varian baru virus Covid-19 dan juga gangguan dalam rantai pasokan yang terjadi beberapa negara di dunia.

“Misalnya seperti di Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, perkembangan dalam pemulihan ekonomi para semester kedua di tahun 2021 cenderung bisa dikatakan lebih lambat dari dugaan sebelumnya,” ujarnya dalam Konferensi Pers Media di Jakarta secara online pada Selasa, 21 September 2021.

Sementara itu, laju pemulihan ekonomi cenderung relatif lebih tinggi pada kawasan di negara-negara Eropa dan juga Amerika Latin. Dengan begitu, diharapakan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi global dan laju pertumbuhan di negara-negara berkembang di seluiruh dunia.