World Bank Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI tahun 2021 Jadi 3,7 Persen

World Bank Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI tahun 2021 Jadi 3,7 Persen

World Bank atau Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di Indonesia di sepanjang tahun 2021 ini hanya 3,7 persen. Proyeksi ini menurun jika dibandingkan dengan prediksi pada bulan April 2021 lalu yang sebesar 4,5 persen.

Dalam laporan yang berjudul “World Bank East Asia and Pacific Update October 2021“, penurunan proyeksi ini bisa terjadi dikarenakan penularan kasus Covid-19 dengan varian Delta sejak bulan Juni 2021 lalu.

Ekonom Bank Dunia Asia Timur dan Pasifik mengungkapkan, bahwa varian ini sangat memukul pemulihan ekonomi Indonesiapada tahun 2021.

“Saya ungkapkan bahwa varian Delta itu sangat memukul ekonomi di Indonesia pada tahun 2021 ini. Untungnya, Indonesia sudah lebih awal dalam melakukan vaksinasi dan berhasil dalam hal mempercepat tingkat vaksinasi di Tanah Air. Semoga saja di pertengahan tahun depan program vaksinasi bisa mencakup proporsi yang lebih besar,” pungkas Mattoo dalam Media Briefing pada Selasa 28 September 2021.

Mengacu dengan laporan yang sama, di seluruh negara di kawasan Asia Pasifik memang semuanya masih terus berjuang melawan varian Delta dan membalikkan resesi ekonomi. Keberuntungan pada kawasan ini seolah-olah berbalik setelah tahun 2020 banyak diantara negara di kawasan Asia Pasifik yang berhasil mengendalikan laju penyebaran Covid-19.

Matto berkata, penyakit ini yang akan menimbulkan kerusakan perekonomian lama dan mungkin ke depannya akan terus ada. Untuk jangka pendek, masa pandemi yang masih terus berlanjut akan memperpanjang kesulitan manusia dan pastinya juga ekonomi jika tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan seperti hari ini.

Sementara itu, untuk jangka lainnya ialah pandemi Covid-19 ini mengurangi pertumbuhan dan sangat memperbesar kesenjangan, kecuali jika negara-negara tersebut bisa mengatasi dampak yang ditimbulkan darinya dan pandai dalam memanfaatkan peluang yang tercipta dari pandemi ini.

” Kebijakan yang diciptakan harus bisa membantu para pelaku ekonomi dalam beradaptasi pada hari ini dan membuat pilihan dalam mencegah terjadinya perlambatan dan juga disparitas ekonomi pada hari kemudian nanti,” ujar Matto.

Pemulihan yang belum merata itu pada kawasan di Asia Pasifik membuat Bank Dunia untuk menurunkan proyeksi ekonomi. Pada saat ekonomi China tumbuh sekitar 9,5 persen tahun ini seperti yang sudah diprediksikan, negara lain akan diprediksikan tumbuh lebih lambat sekitar 2,5 persen bukan lagi 4,4 persen.

Pemulihan ekonomi yang tidak merata itu bisa dilihat dari kondisi kerja industri di China, Indonesia, dan Vietnam yang telah mencapai tingkat pra-pandemi. Lain halnya seperti di Kamboja, Malaysia, dan Mongolia yang baru mencapai tingkat pra-pandemi nanti pada tahun 2022 yang akan datang.

Bahkan di Myanmar, Thailand, dan Filipina dan juga banyak negara lainnya, pertumbuhan ekonomi tetap akan berada di bawah tingkat pra-pandemi sampai pada tahun 2023 nantinya.

“Untuk penyerapan tenaga kerja pasti menurun, tingkat kemiskinan akan terus bertambah, dan kesenjangan sosial pasti meningkat. Rumah tangga yang taraf hidupnya di bawah rata-rata pasti memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk kehilangan sumber penghasilan dan terpaksa menjual aset yang berharga dan lebih produktif,” ujar Matto.

Khusus untuk Tanah Air, Bank Dunia memproyeksikan pada tahun 2022 mencapai 5,2 persen dan pada tahun 2023 hingga mencapai 5,1 persen.

Laju Penyebaran Covid-19 di Indonesia Sudah Dapat Terkendali

Laju Penyebaran Covid-19 di Indonesia Sudah Dapat Terkendali

Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan bahwa PPKM yang diadakan dengan berlevel mampu menekan penurunan angkas kasus positif baru Covid-19 untuk di wilayah luar Pulau Jawa dan Bali.

Tercatat hingga saat ini, jumlah kasus yang aktif di luar Jawa dan Bali sejak awal penerapan PPKM dengan basis level terus menurun setiap harinya. Namun secara nasional, laju perkembangan kasus masih terus terkendali, meski kasus di luar pula Jawa dan Bali masih menyumbang angka yang besar yakni 62,84 persen dari total jumlah 42.769 kasus yang aktif.

“Laju penyebaran kasus aktif positif virus Covid-19 di Indonesia semakin terkendali, dimana rT seluruh provinsi telah berada di bawah 1,” jelas Airlangga dalam siaran pers media pada hari Selasa, 28 September 2021.

Rt atau effective reproduction number merupakan angka penambahan kasus yang terjadi di lapangan setelah mendapatkan berbagai macam intervensi.

Baca Juga: Menteri Investasi Bahlil Lahadalia Beri Pembelaan Terkait Survei Nilai Ekonomi Indonesia

Adapun sejak tanggal 27 September 2021, jumlah kasus aktif menurun sekitar 93,09 persen menjadi 40.280 kasus dari puncak kasus aktif yang terjadi pada tanggal 24 Juli 2021 yang tercatat sebanyak 575.135 kasus.

Jika kita melihat angka dari Rt, laju penyebaran kasusnya ada di bawah satu, yakni hanya sekitar 0,62. Angka ini bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia 0,97 dan juga negara Singapura 1,61.

“5 provinsi dengan nilai Rt tertinggi yaitu di Maluku 0,88; Jawa Tengah 0,82; Gorontalo 0,76; DKI Jakarta 0,82; dan juga Banten 0,78,” pungkas dia.

Khus untuk daerah Pulau Jawa dan Bali, tren kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk per minggu mengalami penurunan di seluruh wilayah yang tersebar di 27 provinsi. Pada tanggal 26 September, hanya ada 1 provinsi yang masih berada pada level 3 yaitu Kalimantan Utara.

Kemudian 2 provinsi lain yang berada di level 2, yaitu wilayah Kalimantan Timur dan Bangka Belitung, sedangkan provinsi sebanyak 24 provinsi lainnya sudah berada di level 1.

Untuk di tingkat Kabupatan atau Kota, hasil asesmen, selalu menunjukkan perbaikan. Jumlah kabupaten atau kota dengan level 4 dan level 3 masih mengalami penurunan yang sangat tajam, dan jumlah kabupaten atau kota dengan level 2 dan level 1 terus mengalami peningkatan.

Saat ini terdapat sebanyak 76 kabupaten atau kota dengan level 3. Sedangkan kabupaten atau kota dengan level 2 sebanyak 275 kabupaten atau kota, dan 34 kabupaten atau kota terus mengalami perbaikan langsung menuju ke level 2 yakni Kutai Kartanegara dan Banjarmasin,” jelas dia.